Tentang Pasrah dan Berserah saat Discovery Diving di Pulau Rubiah



Jika ada yang bertanya mengapa saya berani mencoba melakukan discovery diving, jawabannya adalah kegemaran saya untuk berenang dan melakukan beberapa kali free-diving di laut dan di dalam kolam renang serta perasaan yang timbul ketika melakukannya. Perasaan tersebut meliputi rasa tenang, damai, tanpa suara bising sedikitpun yang mengganggu saya. Biasanya saya rutin sebulan sekali berenang, kalau sedang hectic dengan banyak kegiatan dan begitu riuh suara bising sekitar saya maka yang saya lakukan ya berenang sambil melakukan menyelam bebas. 

Saya harus berterima kasih kepada pelatih renang semasa saya SMA dulu, Rofiq Si Bolang nama facebooknya. Salah satu latihan dasar yang haru dipelajari saat itu adalah gerakan seperti free diving. Jadi menahan nafas sambil menyelam di dasar air kolam. Saya beruntung pernah mempelajarinya dan sangat berguna 10 tahun kemudian ketika saya aktif melakukan perjalanan di beberapa tempat di Indonesia untuk melihat langsung keindahan bawah lautnya.

Oh iya discovery diving sama dengan try scuba yang bertujuan untuk pengenalan menyelam jadi tidak membutuhkan lisensi tapi dijaga dan dituntun oleh dive master.
...

Pagi itu laut di Pantai Iboih, Sabang, nampak tenang meskipun mendung menggelayuti langit. Hal itulah yang membuat saya menarik selimut lagi dan enggan mencari sunrise hehe. 

Setelah bersiap diri saya menuju dive center yang berjarak 50 meter saja dari penginapan. Kami sudah sepakat untuk melakukan briefing pagi pukul 09.00. Di sini meski waktunya tidak memiliki perbedaan dengan tempat tinggal saya namun langitnya sedikit berbeda. Ada selisih satu jam perbedaan langit. Jadi langit jam 09.00 nampak seperti pukul 08.00.

Guide datang bersamaan dengan kedatangan saya di dive center. Matanya sedikit bengkak, sepertinya panggilan telfon saya tadi sekaligus membangunkannya. 

Lebih dari 30 menit saya melakukan beriefing sebelum turun langsung ke dalam laut. Ada materi singkat yang harus saya pahami dan kuasai yang meliputi pengenalan peralatan scuba, cara mengoperasikannya, cara bernafas, equalisasi atau proses adaptasi tubuh dengan dengan tekanan air, keselamatan diri seperti cara menanggulangi saat telinga sakit. Selain itu badan saya juga harus menggunakan semua peralatan menyelam dasar seperti masker, snorkel dan fins, jaket yang terpasang tangki scuba, regulator bernafas, alat pemantau kapasitas oksigen, dan terakhir wetsuit yang terpasang sistem pemberat.

Form yang harus saya isi sebelum memulai proses briefing

Pertama-tama setelah mengisi form saya berlatih semua teori yang sudah diajarkan di pantai sebelum benar-benar menyelam ke kedalaman lautan. Kedalamannya saya taksir hanya dua-tiga meter saja. Tapi..semua teori yang saya pelajari sirna seketika ketika sudah mencoba di laut langsung. Hahaha. Guide saya masih begitu sabar untuk mengajari saya melakukan pernafasan di dalam air dan praktek keselamatan lain yang harus saya kuasai. Akhirnya sekitar 10 menit belajar di pantai guide saya menunjuk ke dalam air yang artinya ini saatnya praktik sesungguhnya. 

Saya begitu deg-degan. Apakah saya bisa melakukan diving? Wong tadi latihan saja masih belum fasih benar. 

Saya segera menyingkirkan perasaan tersebut dan satu mantra yang saya katakan ke diri :

“Pasti bisa, tenang, jangan panik, kalau telinga sakit langsung kasih tanda.”

Mantra yang terus saya ulang tersebut sedikit terganggu dengan telinga yang tiba-tiba sakit! seperti kalau sedang di dalam pesawat dengan ketinggian tertentu dan kalian sedang terkena pilek, sakit sekali kan?

Saya langsung kembali mencoba tenang dan mempraktekkan teori equalisasi yang sudah saya pelajari tadi.

Tarik nafas langsung hembuskan sambil memencet hidung. 

Saya ulangi beberapa kali dan berhasil! Telinga saya tidak sakit lagi.

Tapi saya ingat harus melakukan ini berulang kali untuk mengurangi rasa sakit, jangan menunggu telinga sakit tapi ketika berjalan di kedalaman tertentu langsung lakukan adaptasi. 

Alhasil telinga saya tidak lagi terasa sakit setelah mempraktikkannya.

Itu satu hal saja yang harus dilakukan ketika menyelam, selain equalisasi saya juga harus beradaptasi melakukan pernafasan. Tidak jarang saya memejamkan mata dan mengingat mantra lain: bernafas dengan mulut imama jangan lewat hidung. Mantra ini saya ucapkan ketika lupa bernafas dengan hidung saat sudah lama di dalam laut, inget cara keselamatan lain pembersihan masker diving yang rempong :( jangan buat maskernya mengembun huhu.

Proses pembersihan masker yang buram atau mengembun

Selain proses adaptasi dan keselamatan yang terus saya praktikkan selama menyelam satu hal lain yang membuat saya begitu girang berada di kedalaman 12 meter ini adalah keindahan bawah laut yang begitu luar biasa. 

Guide berkata kepada saya bahwa visibility sedang jelek, airnya keruh, jadi hasil fotonya kurang terang dan tajam. Tapi kali ini saya tidak memedulikannya! Gila bagus banget alam bawah laut Rubiah Sabang. Saya juga bertemu dengan banyak hewan laut seperti ikan badut atau anemonefish, belut laut, dan terumbu karang. Tidak apa-apa kok visibilitynya kurang tapi apa yang saya lihat benar-benar menakjubkan. 

Saat diving ini ada hal lain yang saya dapatkan bagaimana selama ini saya merasa mampu untuk melakukan beberapa olahraga atau aktivitas yang cukup bahaya namun di kedalaman air beberapa meter saja banyak sekali hal yang membuat diri saya lemah. Tanpa bantuan alat menyelam saya tidak mungkin dapat bertahan, hanya beberapa meter masuk ke bawah laut saja telinga sakit tidak karuan, dan hal yang baru saya ketahui (karena tidak menyadarinya) ketika selesai diving guide saya berkata tadi saya sempat mimisan di dalam air, belum lagi tabung oksigen yang sudah hampir habis padahal saya masih ¾ perjalanan yang akhirnya harus meminjam regulator pernafasan guide. Jujur saat di dalam air dengan berbagai macam hal di atas saya begitu pasrah dan berserah...

Siapakah kita ini manusia yang dalam diam ragu dan tak mampu. Siapakah kita ini manusia yang dalam keadaan sedikit saja beranjak dari kenyamanan, tubuh segera merespon dengan beberapa efek sakit. Ah ya, Siapalah saya ini ya Tuhan, maafkan jika sering merasa tinggi dan lupa dengan daratan:(

Di akhir sesi, guide saya berkata kalau dinilai kemampuan saya dapat nilai 8! Kekurangan nilainya karena entah kenapa kaki saya tidak banyak bergerak saat menyelam, saya rasa karena panik :(


Foto selama diving :


Momen ketika sampai dengan selamat dan menghirup udara bebas





doa dulu sebelum nyelem 


Ada yang bisa nebak ini apa?

Bintang laut dan belut!


 Sekarang foto saat free dive :







Pengunjung yang sedang snorkeling

Pemandangan di antara Pulau Sabang dan Rubiah
FAQ:
Q: Imama, ini harus pakai lisensi? 
A: Enggak, karena aku coba yang discovery diving atau try scba jadi ini pengenalan menyelam sama pengetahuan buat pemakaian alat selam, ndak butuh lisensi tapi nanti bakal dituntun oleh dive master
Q: Perlu bisa renang kah Imama?
A: Guideku bilang gak butuh keahlian renang karena ya memang sebenarnya pas diving mengandalkan kemampuaan hentakan kaki dan ketenangan jiwa hehe, tapi lebih baik bisa renang, pas selesai diving kalian bisa cobain free divingnya! 

Kalau ada yang bertanya "mau diving lagi ga imama?" Ya jelas MAU BANGET lah!! hahaaha sekarang nabung dulu buat nyelam di bawah laut Indonesia yang lain, aamiin !

Comments

  1. Ini orang tahu-tahu menghilang, eh udah menjelajah bawah laut hahahahha. Keren

    ReplyDelete
  2. sangat menarik, bagi itinerary sama pricing nya buat try scuba dong dek

    ReplyDelete
  3. Hi Imama, seru sekali! Pasti rasanya campur aduk ya? Aku kebayang banget yang kamu bilang sepi ketika menyelam, yang kedengaran cuma nafas kita sendiri hehe. Pengalaman ini pasti akan diingat selamanya, seperti aku mengingat pengalaman pertamaku diving (asal-asalan dan versi lebih baiknya). Ditunggu cerita-cerita berikutnya tentang diving dan juga tentang Aceh.

    ReplyDelete

Post a Comment