Menelusuri Cagar Budaya Indonesia di Salah Satu Kota Terindah Sedunia, Kotagede.

Pintu-pintu rumah di Kotagede


Sore itu langit cerah mengarahkan langkah kaki saya menuju sebuah kawasan yang menurut CNN Travel menjadi salah satu kota terindah sedunia. Saya hendak mencari jajanan tradisional yang dijajakan penjual di Pasar Legi Kotagede. Kebetulan saat itu bulan Ramadhan, jadi ngabuburit dan hunting foto saya lakukan untuk menunggu waktu adzan Maghrib.




Tiba di Pasar Legi Kotagede, deretan penjual sudah membuka lapaknya di depan pasar. Di sini pengunjung akan dimanjakan dengan aneka kuliner tradisional seperti mie dari singkong, pecel, dawet, jamu dan jajanan lainnya. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat komplit di sini. Saya segera memarkir motor dan mulai memilih-milih makanan apa yang akan saya beli untuk kudapan berbuka.

Kotagede bagi saya adalah kawasan dengan ragam cerita di dalamnya. Jika suatu hari saya mengalami pengalaman mencari menu berbuka dengan ragam kuliner maka di hari lain saya menelusuri lorong-lorong Kotagede untuk melihat arsitektur rumah dan makna filosofis di sana.

Lorong-lorong saya masuki untuk mencari tahu bagaimana kondisi di dalamnya. Banyak sekali pelancong yang mencari pintu-pintu rumah di sini yang konon menjadi favorit mereka untuk objek foto.

Saya sendiri merasa agak sedikit “sesak” dengan adanya pagar-pagar tinggi yang ada di sepanjang lorong. Jika biasanya saat berjalan kaki saya dapat menengok sebentar ke arah rumah, di sini saya seperti diberi batasan berupa dinding yang membuat saya bertanya-tanya bagaimana rupa rumah di dalamnya jika daun pintu pagarnya saja begitu cantik dan otentik.









Rumah-rumah di Kotagede pada dasarnya terbagi menjadi dua macam berdasarkan gaya arsitekturnya, yaitu Rumah Kalang yang disebut juga dengan saudagaran dan tradisional Jawa.
Konon Rumah Kalang dibangun oleh saudagar kaya yang membangun rumah tradisional Jawa dengan sentuhan serta dampak luar, terutama Barat. Biasanya Rumah Kalang ini ada Joglo di bagian belakang bangunan induk dan bagian depan bangunan model Eropa.

Salah satu rumah bergaya Eropa

Berbeda dengan Rumah Kalang, rumah tradisional Jawa bisa dilihat salah satunya di Between Two Gates. Istilah ini disematkan lantaran rumah-rumah di dalamnya dibangun berbanjar dari timur ke barat dan saling berhadapan utara dan selatan. Rumah induk yang menempati posisi utara merelakan lahan mereka untuk dijadikan jalan kecil yang memisahkannya dengan bangunan di bagian selatan yang kebanyakan digunakan untuk kepentingan bersama seperti pendapa dan griya alun-alun.



Jalan yang memisahkan antara bangunan di selatan dan utara tersebut dinamakan tanah rukun. Dinamakan demikian karena penduduk di area Between Two Gates merelakan tanah milik mereka untuk menjadi milik bersama.

Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa rumah-rumah di Between Two Gates ibarat sisi selatan itu pantai (pantai selatan) dan utara itu gunung (Gunung Merapi). Salah satu manfaatnya adalah saat malam dapat menyimpan angin sehingga tidak menyebabkan panas, ungkap seorang pemandu Jelajah Pusaka Kotagede, Lutfi Eviyani dilansir dari Tempo.

Selain Between Two Gates saya menjumpai Omah UGM yang menurut saya memiliki bentuk bangunan tradisional Jawa.



Joglo di tengah bangunan



Sisi cantik Omah UGM

Berbagai peralatan dapur

Selain keindahan arsitekturnya, wilayah Kotagede juga memiliki keindahan lain berupa kerajinan peraknya yang sudah menjadi ikon sejak Kesultanan Mataram. Konon, raja-raja sangat menyukai kerajinan perak ini sehingga rakyat diperintahkan membuat perhiasan perak dan hal ini terjadi turun temurun sekaligus menjadikannya pusat kerajinan perak di Yogyakarta.

Tempat lain yang memperlihatkan keindahan Kotagede adalah Masjid Gedhe Mataram yang sudah berusia ratusan tahun. Keindahannya terletak pada cerita dibalik pembangunan masjidnya.

Foto bersama di depan Masjid Gedhe

Masjid Gedhe Mataram dibangun dengan nilai-nilai toleransi antara umat beragama waktu itu. Sebagian besar warga pada saat itu masih memeluk agama Hindu dan Budha dan mereka dengan senang hati turut membantu pembangunan masjid. Ciri khas Hindu dan Budha terlihat dari tiang dari kayu yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung yaitu gapura masjid yang berbentuk Paduraksa.

Bangunan masjidnya sendiri atapnya berbentuk limas dan ruangan terbagi menjadi dua, yaitu inti dan serambi. Terdapat sebuah bedug yang berusia cukup tua yang dahulu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit dan sampai sekarang bedug tersebut masih dipakai.

Bagi saya keindahan Kotagede tidak hanya lewat bangunan fasadnya saja namun ada nilai-nilai toleransi dan kerukunan yang menjadikannya berbeda dengan kota-kota indah lain di dunia.

Banyak hal yang bisa digunakan untuk pelestarian cagar budaya khususnya di Kotagede ini salah satunya dengan kolaborasi antar sektor dari mulai akademisi, swasta, pemerintah dan masyarakat umum untuk meningkatkan kepedulian terhadap Kotagede. Upaya peningkatan kepedulian tersebut diharapkan dapat menjadikan Kotagede dapat terus tumbuh menjadi wilayah cagar budaya dengan nilai-nilai filosofis "keindahan" yang terkandung di dalamnya meskipun masa kejayaannya menjadi ibukota kerajaan telah sirna.

Mari terus kita rawat dan jaga agar tidak musnah keindahannya. 







A post shared by Imama Lavi | denaiguna.com (@denaiguna) on


Tulisan ini diikutkan dalam lomba "Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!" kalian juga dapat mengikuti lomba ini dengan cara berkunjung ke halaman : Lomba Blog Kemdikbud dan ikuti tata caranya.


Sumber Data :
1. https://edition.cnn.com/travel/article/asia-beautiful-towns/index.html
2. https://www.njogja.co.id/bantul/masjid-kotagede-yogyakarta/
3. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/rumah-tradisional-di-kotagede/

Comments

  1. Ayo agendakan ke sini lagi hehehehhe. Kalau pas ada acara di sini bagus loh buah berburu konten

    ReplyDelete

Post a Comment