Artjog 2019: Membumi dan Lebih Peduli Lingkungan Lagi



Karya seni adalah salah bentuk kebudayaan yang berkembang, dimiliki bersama oleh sekelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. 
....
Sudah menjadi agenda yang saya catat betul-betul tanggalnya saat ada kawan yang mengirim pesan singkat event Artjog. Mumpung eventnya berada di satu kota dan ada beberapa kawan yang juga minat datang, akhirnya kemarin malam saya berangkat ke Jogja National Museum. 

Antrean panjang dan mengular langsung menyambut saya ketika tiba di lokasi. Setelah berjumpa dengan dua kawan yang telah sampai duluan, kami pun kompak menuju ruang merchandise terlebih dahulu karena gate belum dibuka. Pembukaan gate tersebut menunggu kehadiran Bu Sri Mulyani yang akan membuka langsung di panggung belakang. 

Area merchandise yang lebih lengang membuat kami lebih bisa “bernafas” sambil melontarkan candaan.

He pek kate ketemu sopo nang kene?”

“Pak Nasir Tamara lah, sopo maneh.”

Foto bersama dosen kami
Ngomong-ngomong Pak Nasir Tamara adalah salah seorang dosen yang memiliki latar belakang filsafat, pebisnis, dan jurnalis. Di tiap pertemuan dengan beliau pasti kami ditanya,”sedang baca buku apa sekarang?”. Beliau pun senang sekali memberikan banyak referensi buku bagus tentang sejarah Indonesia. Saat candaan itu kami lontarkan tiba-tiba di depan kami benar-benar ada beliau. Akhirnya kami pun saling bersalaman, menananyakan kabar masing-masing dan tak lupa berfoto bersama. 

Merchandise yang dijual di Artjog







Setelah puas berlama-lama di merchandise kami pun melangkah menuju pintu utama. Barisan tetap mengular namun kami tak gentar agar bisa masuk ke dalam ­čśé Massa yang datang begitu banyak hingga akhirnya kami harus “dijatah” untuk masuk, setiap jeda sekitar 2 menitan ada 15 orang yang masuk. 

Sesampainya di dalam kami diarahkan ke bagian kanan ruang pameran. Di sana ada karya instalasi seperti pengeboran di dalam tanah yag berjudul Taman Organik Oh Plastik karya Handiwirman Saputra. Saya ingin mencari deskripsi karya tersebut namun petugas segera menyuruh kami untuk segera berpindah karena kloter pengunjung lain sudah datang dan memenuhi ruangan. Beruntung di website Artjoga semua karya tertulis jelas, jadi saya bisa kembali memahami sambil melihat dokumentasi yang terekam di kamera.



“Umumnya, sebuah taman dibuat untuk kebutuhan maupun kesenangan estetik manusia untuk menikmati kehidupan bersama alam. Hari-hari ini, terutama setelah gaya hidup hijau didengung-dengungkan sebagai penawar kerusakan ekologi akibat modernisasi dan industrialisasi, taman menjadi elemen yang penting, sekaligus simbol prestise, dalam pembangunan properti dan tata kota. Melalui instalasinya, Handiwirman secara kritis mempertanyakan estetika sebuah taman terutama ketika batasan yang alami dan yang artifisial begitu sulit untuk ditetapkan. Ia menganggap bahwa kesenangan kita pada taman justru mencerminkan obsesi manusia modern pada keartifisialan. Taman pada dasarnya hanyalah miniatur atau tiruan dari suatu habitat atau lanskap alam. Ketika menggarap Taman Organik Oh Plastik, alih-alih mengikuti norma-norma estetika alam yang baku, Handiwirman merekayasa metode-metode penggarapan taman secara ekstrim, menggabungkannya dengan cara-cara eksplorasi arkeologis.” ARTJOG

Ruang selanjunya adalah Daun Katulistiwa yang dibuat oleh Teguh Ostenrik. Kita harus masuk melewati sebuah pintu kecil dan pengunjung di sini harus berjalan merunduk. Meskipun agak sedikit “effort” ya masuknya namun ketika di dalam ruangan langsung dibuat takjub. Suara seorang bocah memenuhi ruangan yang begitu gelap, penerangan satu-satunya hanya melalui layar yang ada di balik rangka daun-daun yang seolah menyelubungi kami. Layar di depan kami memperlihatkan terumbu karang di dalam laut. Saya pun heran, apa makna terumbu karang dan daun-daun jati yang ditampilkan secara bersamaan? Lagi – lagi saya langsung menuju website resmi Artjog untuk membaca deskripsi karya tersebut. 

Daun Katulistiwa

Teguh Istenrik ternyata memiliki ketertarikan khusus terhadap lingkungan. Ia senang sekali menyelam dan menurutnya antara daun jati dan terumbu karang memiliki peran penting dalam ekosistem di dunia ini. Keduanya berperan untuk menghasilkan oksigen bagi habitat di sekelilingnya. 

“Baik terumbu karang maupun daun memberikan kontribusi besar pada kehidupan di bumi, yakni sebagai penghasil oksigen yang kita hirup. Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa memberi berbagai keuntungan untuk keanekaragaman hayati. Kehangatan suhu sepanjang tahun di wilayah ini menunjang kesuburan tanaman di darat dan terumbu karang di laut. Bagi Teguh, proyek ini hanyalah upaya kecil untuk merintis kesenian yang berkontribusi langsung pada pelestarian alam.” ARTJOG

Rencananya karya beliau ini akan diceburkan ke wilayah pantai Jikomalamo, Ternate , Maluku Utara.
Setelah menikmati karya yang dipajang di sisi sebelah kanan kini saatnya kami masuk ke ruang utama. 

Di sini ada tiga lantai yang masing-masing lantai dibagi per ruangan untuk pameran karya senimannya. Ada beberapa hal menarik yang saya temukan di masing-masing lantai seperti saat di lantai satu yang tiba-tiba saja ada barisan model yang berjalan ke tengah-tengah pengunjung. Model tersebut ternyata memakai busana karya Lulu Lutfi Labibi. Dan...di sini saya akhirnya bisa melihat langsung beliau (ya meskipun dari jauh haha).

Model dengan busana karya Lulu Lutfi


Karya selanjutnya yang menarik bagi saya adalah karya dari penelitian Mary Magic yang menampilkan video dan objek yang merepresentasikan lanskap Kali Code yang suriill karena dikolonisasi oleh sampah plastik. Menariknya di Artjog adalah kita tidak hanya disuguhkan dengan aneka instalasi saja namun ada experience yang juga kita rasakan, khusus di ruang ini adalah bau sampah yang menyeruak masuk ke hidung. Bagus sekali bagi saya konsep tersebut, karena pengunjung seperti diajak untuk turut serta Mary Magic ke Kali Code. Di dinding ruangan ada kumpulan sampah plastik (yang menurut saya ini adalah sumber baunya) dan terlihat seperti mengapung di air yang keruh. Lalu di tengah ruangan ada miniatur sungai yang terbuat dari bambu, agar-agar dan sampel fungi.


Miniatur Kali Code

Artjog kali ini yang bertema "Arts in Common" dan penampilan karyanya yang begitu membumi membuat saya lebih peduli lagi terhadap apa saja yang ada sekeliling. Definisi karya seni yang diwariskan dari generasi ke generasi seperti mengiyakan tema Artjog bahwa apa yang ada di sekeliling kita akan kita warisakan nantinya pada anak cucu. Daun-daun jati, terumbu karang, dan Kali Code adalah beberapa penopang hidup kita di bumi dan diharapkan kita semua dapat turut membantu untuk menjaga pelestarian dan ekosistem di dalamnya. Kasihan dan sayang sekali kalau warisan yang kita berikan kepada mereka berupa plastik-plastik di kali dan penebangan berlebihan pada pohon-pohon ­čśô



ps: Jika ingin menikmati karya di Artjog lebih baik jangan datang saat opening hehe 


Pintu Keluar Sekaligus Special Projects Sunaryo









Dewa budjana



Comments

  1. Sepertinya tahun ini aku bakal ke sana.
    Kayaknya menarik ahahhahaha.

    ReplyDelete
  2. dari dulu artjog emang keren ya, karyanya pasti mantab-mantab dan mengagumkan, hiks jadi kangen Jogja.

    ReplyDelete

Post a Comment