Cerita (Lima Bulan) Awal Tinggal di Yogyakarta



Ketika mendapatkan pengumuman saya diterima untuk lanjut kuliah rasanya lega..akhirnya bisa pindah juga dari Surabaya dan rumah wkwk. Meskipun banyak sekali hal yang saya dapatkan ketika tinggal di daerah "Arek" tersebut namun entah mengapa rasa-rasanya saya begitu yakin untuk segera berpindah dan bersiap memulai hal yang baru lagi. 

Sedikit flashback ke tahun 2018, saya mengalami begitu banyak drama kehidupan. Mulai dari cerita di jalanan yang sudah dua kali mencium aspal, lika-liku dunia pekerjaan yang gak ada apa-apanya dengan dunia perkuliahan, pertanyaan-pertanyaan menyebalkan, dan masih buanyak yang lainnya. Ketika saya berhasil melewati itu semua, di awal 2019 ini rasa-rasanya saya ingin lompat-lompat kegirangan, saya berhasil melewati itu semua! Terima kasih rumah dan Surabaya yang telah mengajarkan apa itu kerja keras, disiplin, keberanian, dan ketangguhan. 

Ketika saya pindah ke Yogyakarta dan ternyata sudah lima bulan waktu berjalan, saya menyadari banyak perubahan diri yang terjadi. 

Pertama, saya ternyata makin tidak senang dengan hal yang basa-basi dan orang yang banyak sekali bicara namun praktiknya nihil. Mungkin memang dasarnya saya yang selalu ceplas-ceplos dan capek sekali ketika harus berbasa-basi dengan orang yang baru pertemu, lalu saat di sini saya bertemu dengan banyak orang dengan latar yang beragam, saya kebanyakan diam ketika mendengar mereka berbicara. Capek sekali menimpali obrolan hal-hal di luar "interest" saya. Lebih baik saya dianggap tidak tahu apa-apa daripada berusaha keras menjadi seseorang yang bukan Imama.

Seorang Abdi Dalem di Kotagede

Kedua, saya lebih banyak memahami apa itu berkolaborasi. Bahwa "Bumi itu makin tua, sangat melelahkan kalau harus berjuang sendirian, kalau ada teman atau rekan yang bergelut di dunia yang sama baiknya diajak bekerja bersama-sama." Di lima bulan awal ini saya banyak bertemu dengan orang-orang yang memiliki interest yang sama dengan saya dan banyak hal yang Insya Allah akan dikerjakan bersama.

Halaman Balkondes Tuksongo yang menjadi tempat saya untuk mengikuti kegiatan kolaboratif bersama teman-teman pengusaha kreatif di Jogja

Ketiga, tempat tinggal saya dekat dengan buanyak tempat wisata rekk makin senang berjalan-jalanlah saya haha. Jadi, dulu saat di rumah Sidoarjo yang bertetangga dengan Kabupaten Mojokerto dan Kota Surabaya, saya malah lebih banyak main ke pusat perbelanjaan untuk sekadar mencuci mata dan menonton film daripada melihat yang hijau-hijau seperti gunung dan sungai jernih. Atau saat di Surabaya saya lebih sering ke perpustakaan c20. Di tempat saya tinggal sekarang, sekitar 15-20 menit saja sudah diberikan pemandangan segar menawan, gratis pula! Siapa yang mau melewatkannya ehehe~'


CitraGarden Waterpark

Rumah Doa di Magelang
Pintu di Kotagede
Omah UGM
Omah Pocong
Sunset di Concat
Omah UGM
Gelas porselen di Omah Pocong
Kebun kopi Pak Kusno
Taman Nasional Gunung Merapi
Warung Ijo

Jogja Bay






Keempat, ritme hidup saya sedikit lebih santai tapi hal ini tidak begitu saya sukai jadi saya akan lebih berjuang keras untuk mengembalikan ritme hidup saya yang dahulu. Mungkin kalau ibu saya tahu ritme hidup saya yang begitu santai ini beliau langsung menegur saya haha.

Kelima, meskipun saya tergolong penyuka makanan segala namun untuk masakan di Jogja saya belum bisa berdamai. Kalau sekali dua kali tidak apa-apa namun kalau tiap hari jujur saya tidak sanggup untuk makan makanan yang begitu manis. Hanya Lotek dan Tahu Tek langganan yang dapat saya makan setiap hari. Jadi pola makan saya setiap hari seperti ini:

pagi hari saya masak
siang hari : Lotek
malam : Tahu Tek

Hal ini saya lakukan hampir setiap hari karena hanya dua jenis makanan itu saja yang dapat saya konsumsi secara rutin.

Keenam, saya makin memahami apa makna keluarga di kehidupan saya. Hal ini sebenarnya pertama kali saya alami ketika saya berada di RSUD Sidoarjo. Waktu itu saya mengantar mbah kakung dan mbah putri untuk kontrol kesehatan. Jadi Mbah Kakung saya itu rutin untuk mengikuti terapi rehab karena ya faktor umur hehe dan mbah Putri saya di bagian syaraf. Saat antre menunggu saya dan Mbah Kakung pergi ke kantin rumah sakit, tiba-tiba ada penjual yang memberikan celetukannya kepada saya,"sayang banget sama mbahnya ya?" Saya terdiam dan membalasnya dengan senyuman. Lalu saat saya kemarin pergi ke Magelang untuk mengikuti kegiatan pelatihan anak-anak muda yang bergerak di bidang kreatif, di jalan saya tiba-tiba ingat dengan rumah. Hampir saja saya menangis namun segera saja saya menghapus air mata yang belum sempat jatuh ke pipi. Bagi saya memang "Harta yang paling berharga adalah keluarga" sungguh benar adanya. Mereka yang benar-benar tahu saya ini siapa, bagaimana saya seharusnya bersikap kepada orang lain, mereka yang mendukung tiap kegiatan positif yang saya kerjakan, hingga mereka yang dengan tulus dan tanpa maksud yang buruk selalu mendoakan saya dan mbak agar senantiasa diberi keberkahan dan kelancaran di tiap urusan. 

Memang benar apa kata Agustinus Wibowo bahwa perjalanan adalah “mengalami”. Mengalami peristiwa dan kejadian yang kemudian membawa perubahan berarti dalam hidup, perjalanan juga berarti segala hal yang terjadi dalam hidup kita masing – masing. Semoga perjalanan berpindah ke Yogyakarta membawa perubahan yang makin baik bagi saya.




6 komentar

  1. Aku suka basa-basi saat chat dan masih bertahan sampai sekarang.

    Kalimat pembuka, isi, penutup.

    Resikonya chat dicuekin, dianggap tidak to the point ��.

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Cuma memang berhati-hati dengan Yogyakarta karena memiliki ritme pelan. Semoga sukses kuliahnya, Nai.

    ReplyDelete
  3. as always Alhamdulillah kak ima:) sukses terus. semoga segera ketemu di jogja hihi

    ReplyDelete
  4. Tenang, kalau suntuk pas di kelas (kuliah) tinggal mlipir ke taman di PAU. Bakal lenyap semua kesuntukan tersebut ahhahahaha

    ReplyDelete
  5. wkwk aku rasa semuanya berjalan begitu cepat yo, mulai dr obrolan pas april sampe info beasiswa yang tak kirim wkwkw

    serius tak kira kamu bercanda ceee, selamat merayakan lima bulan di Jogja dan seterusnya di Jogja

    #AyotukuomahdiJogja

    ReplyDelete
  6. Jogja ini hampir mirip Malang. Harus tetap kreatif dan mobile di tengah ritme kota yang cukup slow.

    ReplyDelete

My Instagram